Visit gettyimages.com for images like these
<< April 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30


~N~
girl/21th/jakarta/VanNila/Bogor Agricultural University/Food Technologist/
bath paranoia/
dying with moon rabbit/
strawberry cheese cake
/moviegoer
/read/write/soccer/
Hop-Hop/Tiramisu/
/rootbeer A&W with float/
frappucino Mocca Starbucks/
Red Pearl Milk Tea Quickly/
Black Pepper Chicken/
Ice Cream/Fruit/vegetables/
Blue Panadol/chilli-hot food



Pandanglah bulan di saat langit malam hari yang cerah tanpa awan, sebab aku tinggal dan tertawa di salah satu sudut bulan...









MMysterious
OOrganic
OOverwhelming
NNew
RRelaxing
AAstounding
BBeautiful
BBusy
IInspirational
TTwisted




How to make a Moon Rabbit
Ingredients:

3 parts intelligence

1 part crazyiness

1 part joy
Method:
Layer ingredientes in a shot glass. Serve with a slice of caring and a pinch of salt. Yum!


   

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
Thanks for stopping by!
rss feed


Design: wordweave
Image: Getty Images


Forever Fields

~moon rabbit~

iWebTunes/iWebMusic Forced Shut
Friday, April 18, 2008
celana dalam kadaluarsa

Kemaren aku akhirnya memutuskan pulang untuk memnuhi panggilan suamiku. Sebetulnya aneh juga. Kok tumben suamiku pengen aku pulang, pdhl aku musti balik lagi ke kampus besok pagi.

Setelah aku telp, taunya suami ku bilang gini:

"Coba deh, kamu itung, kalo pulang hari ini (Kamis sore, red.) berapa malem?"
"Dua malem."
"Nah, kalo pulang Sabtu berapa malem?"
"Satu." (karena senin ada kul pagi jadi mggu malem harus balik dan ga bisa nginep, red.)

Oleh sebab dan karena demikian, maka aku memutuskan pulang. Dengan alasan, aku menganggap suamiku sudah kangen dengan malam2 bersama ku.

Sampe rumah sekitar jam 8-an gitu. Langsung maem sup hambar yang isinya campur aduk jeroan dan daging, aku mandi, dan langsung masuk kamar. Suamiku lagi main sama selingkuhannya (baca:gitar). Aku ajak ngobrol trus ga lama, aku naik di atas badannya (my fave place!).

Dan terjadi lah.

Tanpa ada apa2! Ga pake pendahuluan apa2. Ga ada romantis2nya.

Padahal aku udah sengaja pake bra dan cd yang satu pasang, yang sengaja dipilihin kakak ku untuk malam pertama ku, tapi suamiku sama sekali ga melihat!

Bahkan waktu aku bilang "aku suka banget cd ini, yang.. Ada kelelawarnya (renda2, red.)"

Dia cuma ngintip dikit trus senyum sekilas!!!!!!!

WHAT!

Obviously, celana dalam ku kadaluarsa.

Hhhhh... =(

Posted at 10:54 am by lalitya
see the rabbit  

Wednesday, April 09, 2008
there are some things..

UJIAN ANALISIS PANGAN

25 soal pilihan ganda, waktu 50 menit, dan aku GA ADA YANG BISA SAMA SEKALI.
I'm so dead!

There are some things you learn best in calm, and some in storm.
    Willa Cather, The Song of the Lark, 1915
    US novelist (1873 - 1947)

i hope i can learn some things from today and yesterday

Posted at 02:25 pm by lalitya
see the rabbit  

SHOCK THERAPY

Selasa kemaren, bisa dibilang BEST DAY EVER sekaligus WORST DAY EVER in my life. Gila banget. Aku nggak tidur semaleman untuk belajar Metabolisme Komponen Pangan. Aku mandi jam setengah tujuh pagi, nyantai, karena tahu ujian jam 10.30.

Udah selesai ulang2in baca slide lagi, jam setengah delapan aku mulai kebosanan. Aku ngajak tyas untuk beli sarapan. Jam 8 kurang 15 aku ke Bara, masih santai, beli nasi uduk 3000-an. Santai, ujian jam 10.30.

Setelah makan sambil baca slide lagi, jam 10 aku pipis dan siap2 ganti baju untuk berangkat. Udah siap tempur dan pede bakal bisa membantai soal2 Pak Dedy dengan jurus2 hafalan dan memori di otak.

Lagi ganti celana jeans, tiba2 bunyi satu sms masuk, kupikir ayang udah sampe kantor dan kirim sms motivasi, jadi nggak aku buka. Lagi asyik milih baju buat dipake ujian, masuk stu sms lagi, aku mulai penasaran, siapa sish sms jam segini.

Tanpa perasaan apa2 aku buka sms, satu dari gia, satu dari veni:

Gia : "Ta, lu knp ga ikut ujian?"

Veni: "Ta, lo sakit ya? Kok ga ikut ujian?"

WHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAT??????!!!!

aku ga mempercayai mataku sendiri, berharap apa yg aku baca salah. aku buru2 cari notes andalan tempat aku mencurahkan segala duka dan cita (halah) dan taunya di notes itu ada tulisan:

MKP Selasa 8 April 2008 jam 8-10 di PAU!!!!!!!

Anjrit!!!

Aku lgsg telp veni dan menjelaskan duduk perkara serta berharap dia bisa mencegah ibu dan bapak pengawas supaya ga pulang dulu dan aku bisa ikut ujian.

Tanpa berpikir apa2, aku lari ke kampus. Di tas cuma ada dompet, payung, dan tempat pensil. Dalam 5 menit aku udah sampe di kelas dan mohon2 ke ibu pengawas untuk ngijinin aku ikut ujian saat itu juga. Yang kepikiran di otakku cuma aku takut Pak Dedy ga nyelenggarain ujian susulan dan aku musti ngulang tahun depan kayak yg dialami Gia dengan Kimia Pangannya.

Untunglah si ibu berbaik hati (eh, tapi ga uga deng) dan lgsg nyerahin soal ke aku dan maksa aku ngerjain di ruang kantornya yg jaraknya ga sampe 5 menit dari kelas PAU.

Setelah sampe di kantor si ibu aku langsung diitung jam nya dan lgsg ngerjain tuh soal. Dalam keadaan ngos2an, tenggorokan kering habis lari, kaki pegel dan sakit karena asam laktat numpuk setelah lari, keringat bercucuran, aku nerjain tuh soal.

GUESS WHAT!

15 menit pertama ga ada soal yg bisa aku kerjain 1 pun!

Ak panik dan semua hafalan lenyap. Kayaknya semua yang udah aku pelajarain semalaman begadang jatoh berceran sepanjang perjalanan dari kosan ke kampus tadi.

Alhasil, aku ngerjain sebisanya aja. Aku udah memohon dengan sangat ke Allah semoga berkenan mengembalikan memori yang sudah susah payah aku tanamkan semalaman, dan memberi aku ketenangan.

Jam 11.30an waktu ngerjain ku habis. Aku ngumpulin ke ibunya, bilang terima kasih dan minta maaf. Trus lgsg turun sambil sms ke suamiku tercinta.

"Aku pengen nangis.. ='("

Aku tahu ayang lg rapat, maka ayang ga mungkin bales dan ga mungkin aku telpon. aku ga tau musti curhat ke siapa lagi. Akhirnya aku sms Mum dan Mum lgsg telp aku.

Aku nangis di telpon sekitar 20 menitan.

Selanjutnya, aku merangkak ke perpus dan memilih sudut yang favoritku trus nangis sendirian di sana.....

Betapa Allah sungguh Maha Pengatur Segala-nya.
Betapa aku cuma setitik kecil dari milyaran titik yang jadi perhatian-Nya.
Betapa aku tak berdaya..

Betapa aku tak berdaya..







Posted at 01:34 pm by lalitya
see the rabbit  

Dua Pilihan


    Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

    'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? '
Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.
   
    Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak  seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"
Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:

    Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar kondisi fisiknya yang cacat.

    Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti'

    Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

    Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

    Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka?
   
    Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.

    Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

    Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali kearah pitcher.

    Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

    Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

    Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"
Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

    Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

    Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

    Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

    Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

    Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara mereka.

    Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pilihan bagi kita:

    Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?


Posted at 01:00 pm by lalitya
see the rabbit  

Wednesday, April 02, 2008
Aku Pengen Kerja!

tadi rapat redaksi korpus.
Baru ketemu gitu sama anak2 hasil bibitan baru alias anak magang. Isu yang kita diskusikan seputar peluang dan manfaat koran kampus buat para anggotanya. Dan yang bikin shock, ada beberapa orang yang ternyata sudah meroket di dunia jurnalistik dan bahkan merambah ke media2.

Ada satu orang yang ditawarin jadi reporter di MEdia Indonesia padahal masih semester 4!
Ada lagi yang udah jadi karyawan tetap di Majalah Agro Observer!
Ada pula yang foto nya dimuat di Republika!

WHAT???

Aku?
Masih mandegggggggg di situ2 aja. Di sini2 aja.
Stick dan lengkeeeeeeeeet sama laporan NAJIS. BETE.
ITP MERENGGUT DUNIA TULIS MENULIS KU.
ITP MEREBUT JURNALISTIK KU.
ITP SIALAN.

aku pengen kerja di media
aku pengen nulis
='(

Posted at 08:21 pm by lalitya
see the rabbit  

Selalu Ada Yang Lebih

Semester tiga, aku merasa di neraka karena mata kuliah ITP sangar2.
Semester empat, lebih di neraka karena ada SOIP, yang ternyata bisa dapet A.
Semester lima, bener2 menembus kulit neraka, ada PTP yang itung2annya udah kayak mata kuliah S3, tapi taunya IP malah 4.

Semester 6 ..
SIBUK!!!!!
bukan deng, harus optimis, ngomongnya: terjadwal dengan padat.
Merasa seperti di kerak neraka, core neraka.
Nggak sempet nafas, otak penuh mulu, tangan nggak berhenti kerja.

Praktikum 5x seminngu.
Pulang kul selalu sore, tugas tiap hari, dan mata kuliah yang sangat UNEXPECTED, dan dosen yang lebih killer dengan tipe2 soal "membantai".

Hufff..
Selalu ada yg lebih atas segala hal.
Di suatu waktu kita merasa itu yang paling berat, tapi begitu terlewati, nanti akan ada masa yang lebih berat.
Lantas kita akan mengulang dan mengulang lagi merasa berat.

Apa ini yang dinamakan lingkaran setan?
Atau kita yang kuarng bersyukur?



Posted at 07:55 pm by lalitya
see the rabbit  

Thursday, March 13, 2008
radikal bebas

Hari ini ada kejadian lucu.

Tadi seperti biasanya, ritual tiap selasa kamis jam 10-13 adalah praktikum analisis pangan. Hari ini topik praktikumnya sifat fisiko kimia lemak sama analisis kadar gula dengan metode arthrone. Hehe. Pada ngga ngerti pasti ya? Mang enak! Hehehe.

Back to the point, pas Ibu Diannya laginerangin gitu, dia nerangin tentang pembentukan radikal bebas peroksida dalam lemak. Nah, sifat peroksida sebagai radikal bebas ini senengnya nyari pasangan mulu. Trus tiba2 Ibunya bilang..

"Si peroksida ini nih kayak kalian. Nyari pasangaaaaaaaaaaaan mulu. Deket-dekat sana sini."

Tiba2 sekelas langsung menyerbu kayak koor.

"Tapi, ada yang udah ga radikal bebas lagi, Bu.."

"Maksudnya?"

"Iya, ada yang udah jadi hidrogen peroksida. Udah punya pasangan tetap."

"Emang kalian ada yang udah nikah?"

"Yah, Ibu. Telat banget seeeeeeeh. Jangan gila dong, Bu.."

Parah banget kan anak2 sekelas ngomong "jangan gila dong" ke dosen! Dasar pada idiot! Eh, nggak deng. Kalo anak TPG pada idiot apalagi anak2 departemen lain, apalagi anak Sosiologi. Huehehe.. Maap, yang..

"Emang siapa? Siapa yang udah nikah?"

"Mami Shita!!!!!"

"Oh, kamu... Selamat ya. Sekarang kamu udah nggak jadi radikal bebas. Salam buat suami kamu, bilangin hati2 teroksidasi."

Sekelas pada ketawa deh.. Aku cuma bisa merah kayak kepiting rebus. Seharian aku dipanggil radikal bebas. Huhuhu.

Kurang asem banget dah.. Akhirnya terbongkar lagi deh. Udah kemaren kena juga sama Pak Dase yang belom merit2 sampe sekarang. Eh, sekarang kena lagi sama Bu Dian.

Apes.

(ungkin buat sebagian orang cerita ini nggak lucu ya? Maaf ya..)

Posted at 06:02 pm by lalitya
see the rabbit  

Next Page